Kalau gaji kamu Rp 5 juta dan habis sekitar Rp 1,7 juta buat makan sebulan, itu masih di batas wajar โ sekitar 35% dari total pemasukan. Masalahnya, banyak orang baru sadar pengeluaran makan mereka sudah bocor setelah lihat mutasi rekening pas akhir bulan. Bukan karena angka totalnya besar, tapi karena komposisi di dalamnya yang nggak pernah dicek.
Sebelum ngitung lebih jauh, ada satu data yang perlu kamu tahu: menurut BPS Susenas 2022, proporsi pengeluaran makanan dan minuman rumah tangga Indonesia mencapai 49,7% dari total pengeluaran. Hampir separuh. Rata-rata rumah tangga perkotaan di Indonesia belanja Rp 2,67 juta per bulan โ artinya lebih dari Rp 1,3 juta habis cuma buat urusan makan dan minum.
Angka ini bikin dua hal terasa jelas. Pertama, kamu nggak sendirian kalau makan jadi pos terbesar. Kedua, "wajar" itu bukan satu angka yang berlaku buat semua orang.
Kenapa Makanan Selalu Jadi Pengeluaran Terbesar?
Ada alasan yang cukup masuk akal secara ekonomi. Makan itu kebutuhan harian, bukan bulanan. Kamu nggak bisa beli makanan sebulan sekaligus lalu nggak makan lagi sampai tanggal 30. Ini yang bikin pengeluaran makan paling gampang bocor โ karena keputusannya diambil tiga kali sehari, dan kebanyakan diambil cepat tanpa mikir.
Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir: cara kita mengakses makanan. Survei Jakpat menunjukkan pengeluaran untuk layanan pesan antar makanan alias food delivery naik rata-rata 23% per tahun sejak 2020. Artinya, makanan yang dulu bisa didapat Rp 15.000 di warung, sekarang sering datang dengan tambahan biaya layanan, ongkir, dan minimum order yang bikin satu sesi pesan antar jadi Rp 45.000.
Menurut BPS Susenas lagi, pengeluaran untuk transportasi menempati urutan ketiga terbesar dalam struktur pengeluaran rumah tangga urban. Bukan cuma makanan yang perlu dicek, tapi sering kali kebocoran pertama justru ada di situ.
Angka Wajarnya Tergantung Level Gajimu
Ini poin yang biasanya hilang dari artikel keuangan. Persentase wajar pengeluaran makan itu tidak flat. Kalau kamu pakai patokan 50% atau 30% dari gaji untuk semua orang, hasilnya akan salah untuk sebagian besar orang.
Yang lebih masuk akal: sesuaikan persentasenya dengan skala pendapatanmu.
Gaji atau uang saku di bawah Rp 5 juta: pengeluaran makan 35โ45% masih normal. Kamu lebih sering masak atau makan di warung, dan porsinya wajar karena kebutuhan dasar memang menyerap banyak.
Gaji Rp 5โ10 juta: makanan idealnya 25โ35%. Di rentang ini, kamu sudah punya ruang untuk makan di luar lebih sering tanpa harus mengorbankan tabungan.
Gaji di atas Rp 10 juta: makan sebaiknya ada di 15โ25%. Kalau lebih, biasanya bukan karena harga makanan, tapi karena gaya.
Kalau mau cara yang lebih terstruktur dalam membagi gaji, ada baiknya lihat panduan bagi gaji dengan bijak ke dalam 3 kategori agar patokan makanmu punya tempat yang jelas di dalam anggaran.
Bukan karena angka totalnya besar, tapi karena ada pola yang sering nggak kelihatan sampai dihitung.
Kopi rutin. Kalau tiap hari kerja kamu beli kopi Rp 25.000, dalam 22 hari kerja itu jadi Rp 550.000 sebulan. Lebih besar dari tarif langganan streaming, listrik, dan internet digabung. Inilah yang disebut pengeluaran kecil yang nggak kerasa.
Pesan antar makanan yang jadi solusi default. Bukan salah pakai, tapi kalau itu jadi pilihan pertama tiap kali lapar, akan terasa di akhir bulan. Pertumbuhan 23% per tahun bukan karena kita makan lebih banyak โ kita cuma bayar lebih mahal untuk makanan yang sama.
Langganan yang lupa dibatalkan. Langganan kopi, layanan pesan antar, aplikasi kuliner, semuanya kecil-kecil tapi kalau ada lima sekaligus, ujungnya lumayan.
Cara ngeceknya sederhana. Buka mutasi bank tiga bulan terakhir, tandai semua transaksi ke merchant makanan. Kalau totalnya di atas 35% dari total pengeluaran dan kamu merasa "biasa aja", kemungkinan ada yang bisa dipangkas. Kalau perlu, baca dulu cara memangkas pengeluaran tanpa hidup sengsara โ karena tujuannya bukan berhenti jajan, tapi sadar seberapa sering.
Turunin Porsi Makan Tanpa Hidup Sengsara
Nggak perlu langsung meal prep 30 porsi atau berhenti jajan total. Mulai dari yang paling gampang.
Catat pengeluaran makan selama tiga hari. Bukan sebulan โ tiga hari sudah cukup untuk lihat polanya. Kamu akan kaget lihat berapa banyak transaksi kecil Rp 18.000 sampai Rp 30.000 yang totalnya lebih besar dari satu kali makan besar yang kamu pikirin lama sebelum beli.
Tetapkan plafon harian, bukan bulanan. Plafon bulanan gampang banget dilanggar di minggu pertama, dan biasanya inilah salah satu alasan budgeting gagal setelah minggu pertama. Plafon harian jauh lebih ngece, karena kamu tahu batasnya setiap kali mau pesan.
Kurangi jumlah keputusan mahal, bukan jumlah jajan. Kamu boleh tetap pesan pesan antar โ tapi pilih tiga hari saja dalam seminggu untuk itu, sisanya masak atau beli di warung yang lebih murah. Bukan soal pelit, tapi soal sadar.
Kalau nggak mau ribet pakai spreadsheet, aplikasi pencatat keuangan seperti Jelas bisa bikin proses ini jadi jauh lebih gampang. Bukan karena kamu wajib pindah aplikasi, tapi karena kadang satu-satunya cara biar tahu duit habis ke mana adalah dengan benar-benar mencatatnya. Panduannya ada di cara membuat budget bulanan pertama di Jelas.
Yang paling penting bukan angka persentase yang sempurna. Yang penting kamu tahu angka milikmu sendiri โ dan bisa jelasin ke diri sendiri kenapa angkanya segitu.